Kamis, 18 April 2013

“SISTEM PENENTUAN HARGA POKOK PESANAN”


Nama  : Hardi
NIM    : F01110023
M.K    : Akuntansi Manajemen

“SISTEM PENENTUAN HARGA POKOK PESANAN”
A.     Pengukuran dan Pembebanan Kos (Harga Pokok)
            Pengukuran biaya atau penentuan biaya (cost measurement) adalah penentuan jumlah (rupiah) bahan baku, tenaga kerja, dan biaya overhead pabrik yang digunakan atau dikonsumsi dalam produksi. Nilai rupiah dapat berarti jumlah rupiah yang benar-benar dikeluarkan atau jumlah rupiah yang diperkirakan akan terjadi. Proses menghubungkan biaya dengan unit yang diproduksi disebut dengan pembebanan biaya (cost assignment).

1.      Manfaat informasi kos (harga pokok) per unit bagi perusahaan manufaktur
      Kos per unit merupakan potongan informasi yang penting bagi sebuah perusahaan  manufaktur, karena informasi ini dapat digunakan untuk menilai persediaan, menentukan laba (harga pokok barang yang terjual), dan membuat berbagai keputusan penting. Penyajian kos persediaan dan penentuan laba merupakan hal yang harus dilakukan oleh sebuah perusahaan setiap periode. Untuk dapat melaporkan berapa nilai persediaan di dalam neraca, perusahaan harus memiliki data tentang jumlah unit barang yang ada di gudang dan harga pokok per unit produk.
            Apakah informasi kos per unit mencakup seluruh biaya manufaktur, atau hanya memasukkan unsur biaya variabel saja, sangat tergantung pada maksud dan tujuan penyajian informasi tersebut. Untuk tujuan pelaporan keuangan, informasi tentang kos harus mencakup seluruh informasi kos per unit (informasi penuh atau absorpsi). Jika sebuah perusahaan beroperasi di bawah kapasitas penuh, maka informasi kos yang disajikan hanya informasi kos incremental saja untuk memutuskan apakah perusahaan akan menerima atau menolak sebuah pesanan khusus. Dengan demikian kandungan informasi kos yang disajikan tergantung pada tujuannya. Hal ini dikenal dengan istilah different costs for different purposes.

2.      Manfaat informasi (harga pokok) per unit bagi perusahaan jasa
            Bagi perusahaan jasa, pertama kali yang harus dilakukan adalah mengidentifikasiunit-unit jasa yang akan dihasilkan. Perusahaan jasa menggunakan data kost untuk kepentingan yang sama dengan perusahaan manufaktur, yaitu untuk menentukan kemampulabaan, kelayakan peluncuran produk (jasa) baru, dan sebagainya. Namun demikian, karena perusahaan jasa tidak menghasilkan produk fisik (barang) tentunya perusahaan jasa tidak perlu menilai persediaan barang dalam proses, dan persediaan produk jadi. Meskipun demikian, karena perusahaan jasa memiliki suplais, tentunya persediaan suplais tersebut perlu dinilai meskipun hanya menggunakan kos historis.
3.      Pembuatan informasi kos (harga pokok) per unit
a.      Pengukuran Kos
      Pengukuran kos dapat dilakukan dengan menggunakan system penentuan kos sesuangguhnya (actual costing) dan penentuan kos normal (normal costing).
b.      Pembebanan Kos
      Pembebanan kos dapat dilakukan dengan metoda penentuan kos (harga pokok) pesanan (job order costing), dan penentuan kos (harga pokok) proses (process costing).
            Kombinasi atau gabungan antara metoda pengukuran dan pembebanan kos akan membentuk sebuah sistem akuntansi biaya. Contohnya, gabungan antara pengukuran kos sesungguhnya dan pembebanan kos pesanan akan membentuk system kos pesanan. Secara keseluruhan, kombinasi antara keduanya akan membentuk 4 alternatif system akuntansi biaya sebagaimana digambarkan dalam matriks berikut :
Gambar
Empat Kemungkinan Sistem Akuntansi Biaya
Pembebanan kos
Pengukuran kos
 Pesanan- sesungguhnya
 Pesanan- normal
 Proses- sesungguhnya
 Proses- normal

B.     Perbandingan Antara Penentuan Harga Pokok (Kos) Pesanan Dan Penentuan Harga Pokok (Kos) Proses

1.      Produksi berbasis pesanan dan penentuan kos (harga pokok) pesanan
      Perusahaan yang berproduksi atas dasar pesanan menghasilkan produk yang sangat bervariasi  dan satu sama lain berbeda. Setiap pesanan menghendaki spesifikasi produk yang unik sesuai dengan selera pemesanan.
      Untuk system produksi berbasis pesanan, biaya produksi dikumpulkan per kerjaan. Pendekatan ini disebut dengan system penentuan kos (harga pokok) pesanan. Dalam sebuah perusahaan berbasis pesanan, pengumpulan biaya per pekerjaan menghasilkan informasi penting bagi manajemen. Jika proses produksi telah selesai, kos per unit dapat dihitung dengan cara membagi total biaya produksi dengan jumlah unit yang diproduksi (untuk pesanan atau pekerjaan tertentu).
2.      Produksi massal dan penentuan kos (harga pokok) proses
      Perusahaan yang berproduksi masal biasanya membuat produk dlam jumlah banyak dan bersifat homogen, setiap produk tidak mudah dibedakan satu sama lain. Perusahaan yang berproduksi masal mengumpulkan biaya produksi berdasarkan proses atau per departemen produksi  untuk satu periode produksi tertentu. Keluaran untuk sebuah proses pada periode pemprosesan yang sama dapat diukur. Kos per unit dapat dihitung dengan cara membagi total biaya produksi untuk satu periode dengan output untuk periode yag sama. Pendekatan ini disebut dengan system penentuan harga pokok proses.

Gambar
Perbandingan Antara System Penentuan Harga Pokok Pesanan
Dan System Penentuan Harga Pokok Proses
Penentuan Harga Pokok Pesanan
Penentuan Harga Pokok Proses
Produk bersifat heterogen
Produk bersifat homogen


Biaya produksi dikumpulkan ber-
Biaya produksi dikumpulkan berdasar-
Dasarkan pesanan (job)
Kan proses atau departemen


Kos per unit dihitung dengan cara
Kos per unit dihitung dengan cara
Membagi total biaya produksi per
Membagi total biaya produksi untuk
Pesanan dengan jumlah unit yang
Satu periode dengan jumlah unit yang
Dihasilkan untuk pesanan yang ber-
Diproduksi dalam periode yang sama
Sangkutan


     
C.     Perbandingan Antara Penentuan Harga Pokok Normal Dan Penentuan Harga Pokok Sesungguhnya
1.      Penentuan harga pokok (kos) sesungguhnya (actual costing)
      System harga pokok sesungguhnya adalah cara penentuan harga pokok produk berdasarkan seluruh pengeluaran (bahan baku langsung, tenaga kerja langsung, dan overhead) yang benar-benar terjadi (dikonsumsi oleh produk). Kos sesungguhnya ini kemudian digunakan untuk menentukan kos per unit. Dengan metode ini, maka informasi kos per unit hanya dapat disajikan tepat waktu apabila periodeyang digunakan relative pendek, misalnya satu bulan. Dengan periode yang pendek ini rata-rata biaya overhead per unit dapat secara tepat, karena biaya overhead berfluktuasi secara tajam dari bulan satu ke bulan berikutnya.
2.      Penentuan harga pokok normal (normal costing)
      System penentuan harga pokok produk berdasarkan biaya normal, merupakan kombinasi antara biaya yang sesungguhnya terjadi (untuk biaya bahan baku dan biaya tenaga kerja langsung), dengan biaya yang jumlahnya ditaksir (untuk biaya overhead pabrik). System ini dipakai untuk mengatasi persoalan yang muncul pada system penentuan harga pokok sesungguhnya. Persoalan yang sering muncul dengan menggunakan system ini adalah bahwa biaya overhead pabrik yang ditaksir dan dibebankan kepada produk, secara akumulatif berbeda dengan biaya overhead yang sesungguhnya terjadi. Jika kesalahan pengukuran jumlahnya kecil, maka selisih antara harga pokok normal dan harga pokok sesungguhnya tidak signifikan.
      Umumnya perusahaan membenankan biaya overhead pabrik dengan basis tariff ditentukan di muka. Jika system harga pokok pesanan menggunakan biaya sesungguhnya terjadi untuk biaya bahan baku dan biaya tenaga kerja langsung, dan menggunakan biaya yang ditaksir untuk biaya overhead pabrik, maka system ini disebut dengan system harga pokok pesanan normal. Demikian pula untuk perusahaan yang menggunakan system harga pokok proses dengan pola yang sama, maka system ini disebut dengan system harga pokok proses normal.

D.    Pembebanan Biaya Overhead Pabrik
1.      Tarif overhead ditentukan di muka
      Perbedaan pokok antara harga pokok sesungguhnya dan harga normal adalah pada penggunaan tariff overhead ditentukan di muka. Tariff ini dihitung dengan menggunakan rumus sebagai berikut :

Tariff Overhead = Anggaran Overhead / Anggaran Tingkat Kegiatan

      Anggaran overhead merupakan biaya overhead yang diperkirakan akan terjadi pad tahun yang akan datang. Estimasi tersebut dibuat berdasarkan biaya overhead yang terjadi pada tahun-tahun sebelumnya, kemudian disesuaikan dengan perubahan-perubahan yang diperkirakan akan terjadi pad tahun depan. Selain itu, untuk menghitung tarif juga diperlukan input berupa anggaran tingkat kegiatan, yang merupakan penyebut. Untuk mnghasilkan input kedua ini, ada dua langkah yang perlu dilakukan yaitu pertama dengan mengidentifikasi ukuran aktivitas produksi, kedua menaksir tingkat kegiatan untuk periode mendatang.
2.      Mengukur aktivitas produksi
            Dalam pembebanan biaya overhead pabrik, perlu dilakukan pemilihan dasar aktivitas yang berhubungan erat dengan konsumsi overhead. Hal ini akan menjamin bahwa setiap jenis produk menerima alokasi biaya overhead secara akurat dan adil. Meskipun tersedia banyak alternative dasar aktivitas, namun ukuran yang paling banyak dipakai adalah :
-         Jumlah unit diproduksi
-         Jam tenaga kerja langsung
-         Biaya tenaga kerja langsung
-         Jam mesin
-         Biaya bahan baku langsung
      Dari lima alternative tersebut, ukuran aktivitas produksi yang paling logis adalah jumlah unit yang diproduksi. Jika perusahan hanya menghasilkan satu jenis produk, maka tentunya biaya overhead yang terjadi adalah hanya untuk menghasilkan produk tersebut, dan biaya overhead pabrik untuk periode tersebut dengan mudah dapat ditelusuri langsung ke output periode berjalan. Dalam kondisi seperti ini, harga produk per unit dengan mudah dapat dihitung secara akurat. Namnun demikian, dalam praktik ternyata umumnya perusahaan mengasilkan lebih dari satu jenis produk. Karena setiap jenis produk mengkonsumsi overhead dalam porsi yang berbeda, maka muncul persoalan alokasi biaya overhead yang tidak akurat.
3.      Pemilihan tingkat kegiatan
      Tingkat aktivitas yang diharapkan adalah tingkat produksi yang diharapkan akan dicapai oleh perusahaan pada tahun yang akan datang. Tingkat aktivitas normal adalah aktivitas rata-rata beberapa tahun yang lalu.
4.      Konsep dasar pembebanan biaya overhead
      Tariff biaya overhead yang ditentukan dimuka, digunakan untuk membebankan biaya overhead ke produksi. Total biaya overhead yang dibebankan ke produksi disebut biaya overhead pabrik dibebankan. Biaya overhead pabrik yang dibebankan dihitung dengan menggunakan rumus sebagai berikut :

BOP Dibebankan = Tariff X Tingkat Kegiatan Sesungguhnya

Pengukuran aktivitas produksi yang digunakan untuk menghitung tariff BOP harus sama dengan ukuran aktivitas produksi sesungguhnya. Jika tariff BOP dihitung atas dasar jam tenaga kerja langsung, maka BOP harus dibebankan atas dasar tenaga kerja langsung yang sesungguhnya dikonsumsi. BOP dapat dibebankan setipa hari, setiap minggu, setiap bulan, atau setiap periode waktu lainnya sesuai dengan kebutuhan. Dalam upaya untuk memahami konsep pembebanan BOP, ada dua poin yang perlu digaris bawahi, yaitu :
a.       BOP yang dibebankan digunakan sebagai dasar untuk menghitung BOP per unit
b.      BOP yang dibebankan jarang berjumlah sama dengan BOP sesungguhnya.
5.      Disposisi /perlakuan selisih biaya overhead pabrik
      Dari perspektif penentuan harga pokok sesungguhnya, selisih harga overhead menggambarkan adanya kesalahan dalam pembebanan BOP kepada produk. Pada akhir periode pelaporan, sesuatu harus dikerjakan berkenaan dengan adanya selisih BOP. Biasanya selisih diperlakukan sebagai berikut :
-         Seluruh biaya BOP dialokasikan ke harga pokok penjualan
-         Selisih BOP dialokasikan ke persediaan barang dalam proses, persediaan produk jadi, dan ke harga pokok penjualan secara proporsional.
      Alokasi Ke Harga Pokok Penjualan. Praktik yang umum terjadi dalam memperlakukan selisih BOP adalah membebankan seluruh selisih BOP ke harga pokok penjualan. Praktik ini didasarkan atas dasar materialitas. Metoda ini cocok digunakan apabila selisih apabila BOP jumlahnya tidak material. Dengan demikian selisih BOP akan ditambahkan ke harga pokok penjualan jika selisih tersebut merupakan selisih kurang dibebankan, dan dikurangkan dari harga pokok penjualan jika selisih tersebut merupakan selisih lebih dibebankan.
      Alokasi ke Rekening Produksi. Jika selisih BOP jumlahnya material, maka selisih ini harus dialokasikan ke produksi periode berjalan. Secara konsep, BOP untuk satu periode merupakan milik produksi periode tersebut. Oleh karena itu, BOP untuk sebuah periode harus dihubungkan dengan barang yang diproses pada periode yang bersangkutan, baik barang yang belum selesai dibuat (barang dalam proses), barang yang telah selesai namun belum dijual (persediaan produk jadi) maupun barang yang telah selesai dan telah dijual (harga pokok penjualan). Karena BOP dikonsumsi oleh ketiga kelompok rekening ini, maka selisih BOP yang muncul harus pula dialokasikan kepada ketiganya secara proporsional.

E.     Penentuan Harga Pokok Pesanan
            Biaya bahan baku dan biaya tenaga kerja langsung dibebankan ke produk bersama dengan biaya overhead pabrik yang berbasis tariff. Untuk dapat membebankan biaya-biaya tersebut, pertama-tama kita harus mengidentifikasi setiap pesanan, biaya bahan baku, dan biaya tenaga kerja yang dikonsumsi oleh pesanan tersebut. Selain itu, kita juga akan membebankan biaya overhead kepada pesanan. Dokumen yang digunakan untuk mengidentifikasi setiap pesanan dan untuk mengumpulkan biaya-biaya manufaktur disebut kartu harga pokok pesanan (job-order cost sheet).
1.      Bukti permintaan bahan baku (material requisition)
      Biaya bahan baku yang dibebankan kepada sebuah pesanan dengan menggunakan sebuah dokumen yang disebut dengan formulir/bukti permintaan bahan baku. Bukti permintaan bahan baku juga memberikan informasi lain seperti nomor, tanggal, dan tanda tangan bukti permintaan bahan baku. Informasi tersebut bermanfaat untuk melakukan pengendalian terhadap bahan baku yang dimiliki oleh perusahaan.
2.      Kartu jam kerja
      Biaya tenaga kerja langsung juga harus dihubungkan dengan setiap pesanan yang mengkonsumsinya. Konsumsi tenaga kerja ini direkam dalam sebuah dokumen yang disebut kartu jam kerja (job-time ticket). Jika seorang karyawan mengerjakan sebuah pekerjaan (pesanan), maka karyawan tersebut mengisi kartu jam kerja yang mengidentifikasi nama karyawan, tariff upah, jam kerja, dan nomor pesanan. Kartu ini dikumpulkan setiap hari dan diserahkan kepada bagian akuntansi. Oleh bagian akuntansi, kartu jam kerja digunakan sebagai dasar untuk mencatat konsumsi tenaga kerja ke kartu harga pokok pesanan yang bersangkutan.
3.      Pembebanan overhead
      Pesanan akan dibebani dengan overhead dengan menggunakan tariff BOP yang telah ditentukan sebelumnya. Biasanya, untuk mengukur konsumsi BOP, perusahaan menggunakan data jam tenaga kerja langsung.
4.      Perhitungan harga pokok per unit
      Jika sebuah perusahaan telah selesai, maka jumlah biaya manufaktur dapat dihitung dengan cara menjumlahkan seluruh biaya bahan baku, biaya tenaga kerja yang dikonsumsi, dan  biaya overhead pabrik yang dibebankan kepada pesanan bersangkutan. Untuk menentukan harga pokok per unit, maka hasil penjumlahan ketiga elemen biaya manufaktur tersebut dibagi dengan jumlah unit produk yang dibuat.

F.      Aliran Biaya Pada System Penentuan Harga Pokok Pesanan
            Aliran biaya adalah aliran data biaya sejak dilakukan pengakuan dan pencatatan data biaya, sampai dengan pelaporan biaya tersebut dalam laporan laba/rugi.




     



Tidak ada komentar:

Posting Komentar